Jawaban singkat: Berat produk di toko online sebaiknya diisi dengan berat paket siap kirim, bukan berat bersih barang. Timbang produk bersama kemasan dan bahan pengisinya, ukur kemasan terluarnya, hitung berat volumetrik, lalu isi angka yang lebih besar di etalase. Perbarui datanya setiap kali kemasan atau ukuran kardus berganti.

Angka berat di halaman produk terlihat seperti detail kecil, padahal angka itulah yang dipakai sistem toko online untuk menghitung ongkos kirim (ongkir) saat pembeli checkout. Kalau terlalu kecil, ongkir yang dibayar pembeli tidak cukup dan selisihnya bisa menjadi tanggunganmu. Kalau terlalu besar, ongkir terlihat mahal dan pembeli batal sebelum membayar.

Masalahnya, banyak penjual mengisi berat dari label pabrik atau sekadar perkiraan. Berikut cara mengisi berat produk yang mendekati kenyataan, beserta rutinitas sederhana untuk merapikan seluruh katalog.

Kenapa berat produk di etalase penting?

Berat di etalase menentukan ongkir yang dibayar pembeli, sedangkan berat yang ditagih kurir ditentukan saat paket diperiksa. Kurir umumnya menimbang atau mengukur ulang paket, dan perbedaan dengan data penjual bisa berujung tagihan tambahan yang disebut selisih ongkir.

Cara penagihan selisih berbeda per kurir dan platform, dan aturannya bisa berubah. Cek ketentuan resmi kurir dan Seller Center platform yang kamu pakai.

Selain soal uang, berat yang tepat juga menjaga kepercayaan. Pembeli yang diminta menambah ongkir setelah membayar cenderung merasa dirugikan, walau selisihnya kecil.

Cara mencantumkan berat produk di toko online

Kerjakan langkah berikut untuk setiap produk, mulai dari yang paling laku.

  1. Kemas satu produk persis seperti saat dikirim, lengkap dengan polybag, bubble wrap, kardus, dan bahan pengisinya.
  2. Timbang paket itu dengan timbangan digital dan catat beratnya.
  3. Ukur panjang, lebar, dan tinggi kemasan terluar dalam sentimeter.
  4. Hitung berat volumetrik dengan rumus yang umumnya dipakai kurir: panjang x lebar x tinggi dibagi 6.000. Cek ketentuan resmi kurir karena pembagi dan pembulatannya bisa berbeda.
  5. Isi angka yang lebih besar antara berat timbang dan berat volumetrik di kolom berat etalase.
  6. Simpan ukuran dan berat itu di lembar katalog, supaya mudah diperbarui saat kemasan berganti.

Berat volumetrik adalah berat yang dihitung dari ukuran paket, bukan dari timbangan. Contoh lain dan penjelasan rumusnya ada di panduan cara menghitung berat volumetrik paket.

Perhatikan juga satuan yang diminta. Sebagian formulir produk meminta berat dalam gram, jadi cek satuan di formulir tokomu: 0,375 kg ditulis 375 gram dan 1,2 kg ditulis 1.200 gram. Salah satuan adalah kesalahan kecil yang bisa membuat ongkir di checkout melonjak atau justru terlalu rendah.

Kalau produknya ratusan

Menimbang ratusan produk satu per satu memang melelahkan. Cara yang lebih ringan adalah mengelompokkan produk berdasarkan jenis kemasan, misalnya semua kaos yang memakai polybag ukuran sama, atau semua toples yang dikirim dalam kardus yang sama. Ukur kemasan satu kali per kelompok, lalu timbang beberapa produk perwakilan.

Mulailah dari produk terlaris, karena produk itulah yang paling sering dikirim. Sisanya bisa dirapikan bertahap setiap pekan.

Contoh hitungan

Tabel berikut memakai tiga produk contoh dengan ukuran kemasan yang umum. Semua angka adalah contoh, bukan data produk nyata.

Produk contoh Ukuran kemasan Berat timbang (dengan kemasan) Berat volumetrik Angka di etalase
Kaos lipat dalam polybag 30 x 25 x 3 cm 0,30 kg 0,375 kg 0,375 kg
Sepatu dalam kotak 33 x 22 x 13 cm 1,2 kg sekitar 1,57 kg sekitar 1,57 kg
Keranjang anyaman 40 x 40 x 30 cm 1,2 kg 8 kg 8 kg

Untuk kaos, selisihnya kecil, dan setelah pembulatan berat oleh kurir hasilnya bisa saja sama. Untuk sepatu, kotak bawaannya membuat berat volumetrik sedikit lebih besar dari timbangan. Keranjang anyaman adalah contoh klasik barang ringan tapi besar: timbangannya hanya 1,2 kg, tetapi ruang yang dipakainya setara 8 kg.

Kalau ingin melihat dampak angka berat terhadap ongkir, coba bandingkan beberapa berat untuk rute yang sama di cek ongkir OngkirHub. Tersedia pilihan berat cepat dari 0,5 sampai 10 kg, dan hasilnya berupa estimasi. Kurir dan layanan yang muncul tergantung rute dan berat.

Bagaimana jika pembeli membeli beberapa barang?

Untuk pesanan berisi beberapa barang, ongkir dihitung dari paket akhir, bukan dari jumlah berat per produk. Jumlahkan berat produknya, tambahkan berat kemasan satu kali, lalu hitung berat volumetrik dari kardus akhir.

Di sisi lain, sistem toko online umumnya menjumlahkan berat per produk di etalase. Kalau berat setiap produk sudah termasuk kemasan, pesanan tiga kaos bisa tercatat lebih berat dari kenyataan karena berat kemasan terhitung tiga kali.

Misalnya tiga kaos contoh yang masing-masing tercatat 0,375 kg di etalase dikemas dalam satu polybag besar berukuran 30 x 25 x 8 cm. Volumenya 6.000 cm3, jadi berat volumetriknya 1 kg, sementara timbangannya sekitar 0,9 kg. Etalase justru mencatat 3 x 0,375 kg = 1,125 kg. Semua angka ini contoh.

Untuk produk yang sering dibeli lebih dari satu, ada dua jalan: buat varian paket bundling dengan berat sendiri, atau hitung berat per produk hanya dengan kemasan dalam yang ringan, seperti polybag, lalu cek ulang ongkir pesanan besar sebelum dikirim.

Untuk pesanan lewat chat, hitung langsung dari paket gabungan. Alurnya ada di cara menjawab pertanyaan ongkir di chat.

Kapan berat produk perlu dicek ulang?

Data berat yang benar hari ini bisa salah bulan depan. Jadwalkan pengecekan ulang pada saat-saat berikut:

  • Kemasan berganti, misalnya dari polybag ke kotak, atau ukuran kardus berubah.
  • Pemasok atau bahan produk berganti, sehingga berat barang ikut berubah.
  • Ada produk baru yang belum pernah dikirim.
  • Ada komplain ongkir dari pembeli atau tagihan selisih dari kurir.
  • Secara berkala, misalnya sebulan sekali untuk sepuluh produk terlaris.

Kesalahan yang sering terjadi

Banyak masalah berat produk berasal dari kebiasaan mengisi data sekali lalu melupakannya. Yang paling sering terjadi:

  • Memakai berat bersih dari label pabrik, padahal kurir menimbang paket lengkap.
  • Lupa menghitung bubble wrap, kardus, dan bahan pengisi.
  • Tidak memperbarui berat setelah ganti kemasan.
  • Mengisi semua produk dengan angka sama, misalnya 1 kg, supaya cepat.
  • Sengaja mengecilkan berat agar ongkir terlihat murah, lalu menanggung selisihnya.
  • Mengabaikan berat volumetrik untuk barang ringan tapi besar.